WHAT'S NEW?
Loading...

Menelisik fenomena Open House + Bagi-bagi angpau ketika lebaran dari kacamata matematika ibadah

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui maupun mengebiri kebiasaan yang telah berlangsung cukup lama.
Tulisan ini berangkat dari beberapa fenomena “unik” yang pernah terjadi beberapa waktu yang lalu, yang bertepatan dengan hari perayaan hari raya idul fitri.

Salahsatu yang cukup hangat ialah peritiwa Open House dirumah calon wapres terpilih untuk periode 2014-2019. Bapak …. Tak usah sebut nama lah yah.

Saat kegiatan Open House, berlangsung diluar dugaan jumlah masyarakat yang hadir membludak, sakit banyaknya hingga akhirnya ada korban jiwa, satu orang meninggal dan tercatat ada beberapa orang yang luka-luka. Mulanya saya berfikir, kok pada nafsu banget tuh orang-orang pengen salaman sama wapres, sampai sampai mengorbankan saudaranya sendiri, saya sebut saudara, karena saya yakin yang datang itu sebagian besar muslim semua, dan yang jadi korbanpun saya yakin muslim juga.

Usut punya usut, kata media sih yah. Setiap orang yang hadir di acara open house tersebut dikasih bingkisan (kurang jelas uang atau barang) intinya sih dapat angpau hehe
Pertanyaannya adalah, tuh saudara-saudara kita yang ngebet pada desak-desakan motivasinya murni halal bihalal kah atau sudah bercampur dengan “angpau”.

Uniknya kejadian jatuhnya korban pada peristiwa openhouse seperti ini tidak terjadi satu dua kali, dulu tahun 2009 (kalau tidak salah) pernah juga kejadian ada yang meninggal pada saat Pak Gubernur Jakarta Pada saat itu, melakukan open house seperti yang dilakukan oleh pak calon wapres diatas, nah beliaupun bagi-bagi bingkisan juga. Nah kan ente yakin itu yang dateng niatnya halal bihalal doang.

Hal yang hampir sama juga pernah terjadi di istana negara, waktu pak presiden melakukan open house juga, tercatat satu orang meninggal, katanya penyebabnya serangan jantung.

Saya rasa kejadian jatuhnya korban saat halal bihalal plus bagi-bagi angpau tidak hanya terjadi pada ketiga kegiatan diatas, saya meyakini dibelahan dunia lain, ada juga hal serupa.
Sekarang ayo kita hitung dari kacamata matematika.

Dari kacamata kaum muslim yang datang Misalnya nih, udin dateng ke halal bihalal pak xxx, karena yang datang banyak banget, alhasil udin rebutan masuk dengan kaum muslim yang lain, dalam prosesnya secara tidak langsung udin menyakiti beberapa orang, terdiri dari, Joko (kakinya keinjek oleh udin), Roni(celananya kotor kena cipratan debu sendal udin) dan nenek Ina (yang posisinya udin serobot). Total udin membuat dosa secara tdk langsung dengan 3 orang. Disaat yang sama udin bermaaf-maafan dengan bapak xxx. Secara kasar maka dosa udin 3-1 pahala sisanya dosa udin masih 2. Rugi apa tidak tuh….

Sedangkan dari kacamata tuan rumah (bapak xxx)
Semua juga pada tau kan, bahwa Bonus pahala yang paling gede itu adanya Cuma dibulan ramadhan, sekarang ente ingat ingat lagi, lebaran itu terjadinya kapan? 1 syawal kan! Berarti kalo kita ngasih sesuati ke orang lain dibulan syawal vs bulan ramadhan dengan nilai yang sama dan kadar keiklasan yang sama, serta tingkat riya yang sama ane yakin 99% pahala yang dicatat oleh malaikat pasti gedean yang dilakukan di bulan ramadhan. Yakin ane.

Nah jadi gimana secara matematika rugi kan :D
Kalo ada yang bilang kan sekalian halal bihalal… eh tong emang maaf-maafan Cuma boleh pas lebaran aja… ngak kan..
Cukup sekian pandangan saya.
Mohon jangan dimasukkan kedalam kantong..


Salam 13 jari heheh

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda