WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Ini opini saya #catet

Saya sebetulnya meyakini bahwa sesungguhnya semua orang itu guru. iya kita, kita adalah guru yang bertebaran dimuka bumi. Mengajarkan, mempengaruhi satu sama lain, kita, iya kita merupakan guru pada jutaan ide yang bertebaran di muka bumi.

hanya saja kali ini saya lebih memfokuskan kepada guru formal. manusia-manusia yang secara formal kita sebut sebagai guru. orang yang hidup dan digajih karena profesinya sebagai guru.

sebelum lebih dalam, coba kita ingat-ingat lagi.
Apa yang kita rasakan dilarang merokok, oleh seorang perokok?
Bagaimana rasanya dilarang telat, oleh orang yang selalu datang terlambat?
Bagaimana rasanya dilarang jalan-jalan oleh orang yang tiap hari muter-muter indonesia?

tidak adik. ngak fair, iya itu kan rasanya! dia aja begitu, masa larang-larang kita.

inilah yang mau kita bicarakan. sayang merasa (opini) seluruh sistem yang ada, yang dibangun di dunia pendidikan kita tidak akan ada gunanya bila kita (guru) masih bersikap layaknya raja. layaknya seseorang yang tidak pernah salah, like a boss. masih ingat rule boss.
1. Boss tidak pernah salah.
2. Jika boss salah, maka kembali ke point 1.

saya rasa tidak ada seorangpun yang setuju dengan pemimpin macam ini. sayangnya guru(kita) juga pemimpin. dalam cakupan yang sangat kecil, kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri, nah disekolah guru adalah pemimpin bagi siswa-siswinya.

sekarang bayangkan anda jadi siswa. siswa yang dihukum dijemur di bawah terik matahari, karena merokok. bayangkan disaat yang sama, guru anda menceramahi anda karena merokok, dia melakukan sambil merokok. bayangkan dua hari kemudian! apakah anda akan jera dan tidak akan merokok lagi? saya rasa pasti iya, cuman anda tidak akan merokok cuma didepan guru tersebut. di tempat lain. anda pasti akan tetap merokok.

saya jadi ingat, sebuah pepatah, sebaik apapun nait kamu, kalau caranya salah, maka hasilnya pasti akan tetap salah. #dijamin

saya yakin, iya yakin. sejujurnya tidak ada guru yang berniat jahat. (kecuali disinetron yah). semua guru punya niat yang baik, semua guru sayang dengan siswa-siswinya, rasa sayang tadi menuntun guru untuk melakukan tindakan ketika siswanya melenceng dari garis ideal kehidupan. yang paling umum adalah dengan membarikan reward dan punishment.(hadiah dan hukuman) hadiah atas sikapnya yang baik dan hukuman atas tindakannya yang melenceng.

tapi cara tersebut saya anggap tidak tepat.

pernahkah anda mendengar ujaran "kamu adalah jendela rumahmu"
anak yang "nakal" biasanya lahir dari keluarga yang pendidikannya "nakal", sebagian besar orang tua yang merokok, menghasilkan anak yang perokok juga. meskipun orang tuanya sudah melarangnya. Mengapa? karena mereka meniru apa yang kita lakukan.
mereka tidak perduli rule, apapun yang kita buat, kalau toh ternyata kita juga melanggar aturan itu.
sehingga yang idela adalah..

ketika kita memprogramkan salam senyum dan sapa.
maka kita sebagai guru, juga harus lebih dulu senang menyapa, lebih dulu suka tersenyum dan tidak pernah bosan memberi salam.

kalau kita ingin sekolah kita bebas rokok, makan jangan sampai satu detikpun ada siswa yang melihat salahsatu gurunya merokok, didalam, maupun diluar sekolah.

kalau kita ingin siswa kita rajin membaca, maka kita sebagai guru juga harus lebih dulu senang membaca.

kalau kita ingin siwa kita selalu berkata lembut, maka kita sebagai guru, harus lebih dulu terbiasa berkata lembut.

dan begitulah seterusnya...

kita seharusnya menjadi contoh nyata untuk setiap sikap yang kita harapkan ada di anak.

saya sadar, saya sendiripun jauh dari kata sempurna, mungkin kadang kesempurnaan saya hanya 0.1% namun bukan kesempurnaan yang dicari, karena kalau menunggu sempurna dunia pendidikan kita akan stuck(terhenti) yang diperlukan adalah kesadaran untuk belajar memantaskan diri menjadi contoh nyata yang ada didekat siswa dan siswi kita.

saya yakin jika guru mampu benar-benar menajasi sosok yang digugu lan ditiru, orang tua juga mampu menjadi contoh...

tak perlu kurikulum yang aneh-aneh.. 2045 indonesia pasti akan hebat dengan sendirinya.

#salam 


Ini opini saya. #catet

Sadar atau tidak, hampir disetiap inci kehidupan kita, dari pagi hingga pagi lagi. kita selalu mempengaruhi orang lain, atau sebaliknya.

coba ingat lagi, dipagi hari ketika kamu sudah dandan cantik/ganteng, udah siap menatap matahari, tiba-tiba datang teman, sahabat, adik, kakak, atau orang tua kemudian berkomentar atas atribut yang kamu gunakan. Biasanya kemungkinan yang terjadi adalah akan terjadi perubahan terhadap atribut yang kamu gunakan (eq, sisiran rambut, wangi parfum, warna baju, jenis kerudung, dll) atau tidak terjadi apa-apa.

kejadian pertama dimana kamu pada akhirnya mengubah atribut yang kamu gunakan, disitulah kamu sudah "dipengaruhi" orang lain, sedangkan

kejadian kedua dimana kamu tidak melakukan ubahan apa-apa terhadap atributmu, itu tanda bahwa kamu tidak berhasil dipengaruhi.

kejadian seperti ini terjadi terus-menerus sepanjang waktu selama hidup kita masih berlangsung.

dan objek yang dipengaruhipun selalu berubah-ubah, tapi pada intinya yang dipengaruhi adalah otak kita, persepsi kita.

masih ingat iklan di televisi yang selalu diputar setiap hari.
apa yang membuat anda membeli produk yang diiklankan di televisi?
yups. anda membelinya karena berfikir ...

sekali lagi anda membelinya karena anda berfikir ...

kemudian anda membalinya lagi karena anda berfikir ,...

berfikir bukan? itu tandanya pikiran anda sudah dipengaruhi oleh persepsi-persepsi yang disampaikan melalui iklan. itulah mengapa iklan yang baik adalah iklan yang kreatif, iklan yang mampu mengguncang pikiran kita, iklan yang mampu meyakinkan kita, memberikan harapan dan pada akhirnya iklan itu membuat kita berfikir kalau produk obat penurun panas yang baik itu adalah ...., obat masuk angin ya ....
mobil yang baik ya mereknya ....
motor yang tangguh ya mereknya ....
handphone yang bagus mereknya ....
jilbab kalau bukan jilbab .... ngak bagus ....


bukankah begitu.
sadar tidak sadar begitulah cara kerjanya ...

Dalam bentuk yang lebih sederhana, ketika kita berbincang-bincang dengan teman, sahabat, saudara, tetangga, rekan kerja, atau seseorang yang bahkan sama sekali belum kita kenal, detik itu juga selama proses interaksi berlangsung, terjadi proses saling mempengaruhi. terkadang kamu terpengaruh, dikesemaptan yang lain kamu mempengarugi. itulah mengapa "orang dulu" pernah berkata, "bertemanlah dengan pandai besi, kalau mau basu gosong, bertemanlah dengan tukang parfum, nisacaya kamu ikut wangi" sorry ya kalo susunan kalimatnya melenceng :D

mempengaruhi-dipengaruhi merukan proses yang ngak akan pernah hilang kecuali kamu "m*ti". untuk mengurangi dampak negatifnya maka ada baiknya kita memilih kepada siapa kita berinteraksi dengan intensif. tapi hal ini bukan berarti kita pilih-pilih teman. kita hanya mengontrol seberapa intensif pertemannannya.
Ditulis oleh sancimelekete (kaskuser)
dipublikasikan pada laman : http://www.kaskus.co.id/thread/549e4e99de2cf293508b4569


Introduction.

Media Massa (Mass Media) singkatan dari Media Komunikasi Massa (Mass Communication Media), yaitu sarana, channel, atau media untuk berkomunikasi kepada publik. Untuk efektifitas berbahasa, Istilah Media Massa sering disingkat “Media” saja, tanpa “Massa”. Media Massa merupakan suatu sumber informasi, hiburan, dan sarana promosi (iklan) dari suatu individu/ kelompok untuk disebarkanluaskan kepada khalayak ramai (masyarakat).



Sedangkan opini adalah pandangan (yang bisa definitif) yang tertanam diotak seseorang.


Berdasarkan definisi singkat diatas, kita titikberatkan perhatian kita bahwa media berfungsi untuk menyebarluaskan informasi, yang artinya, dengan tersebarluasnya suatu objek informasi maka :
1. Media sanggup membentuk perhatian kepada suatu objek berita (Fase 1). Pada saat ini opini masyarakat berada di level low (rendah) karena baru mengenal objek tersebut, mereka belum bisa memasuki opini yg definitif.
2. Meningkatkan perhatian pada suatu objek tersebut (Fase 2). Pada tahap ini, apabila objek tersebut diberitakan terus menerus, maka fokus dan konsentrasi masyarakat akan “stucked” ke objek tersebut, sehingga muncullah “Kepopuleran” terhadap objek. Pada tahap ini, opini masyarakat makin menguat.
3. Mempopulerkan objek yang diberitakan (Fase 3). Hal ini timbul karena perhatian media yg begitu massif untuk terus meliput objek, Entah itu populer dalam arti negatif atau positif. Pada tahap ini, opini masyarakat masuk kedalam level percaya.
4. Mempertahankan kepopuleran objek. Pada fase ini opini dan nilai-nilai yang sudah terbentuk akan terus dipertahankan. Caranya? Tentu dengan terus-terusan memberitakan hal yang sama. Efeknya, Masyarakat yang sudah terlanjur mempercayai informasi yang diberitakan : akan KUKUH pada apa yg telah mereka percayai. 












Can you see gan bahwa fase-fase yang kasat mata ini adalah : 
Membentuk, 
Meningkatkan, 
Mempopulerkan,
 
lalu MEMPERTAHANKAN pandangan yang mereka perkenalkan. 


Hal diatas hanya kulit luar saja atas apa yg bakal ane sajikan, silahkan terus dibaca trit ini karena Faktanya Media juga mempunyai Fungsi lanjutan yang lebih dahsyat. Nah untuk bisa lebih memahami, izinkan ane memberi sebuah contoh Opini yang Sangat kental dengan masyarakat Dunia Kekinian. 


Apa itu?

Yah tentang TERORISME.