WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Tayangan Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tayangan Pendidikan. Tampilkan semua postingan

IMG_0494IMG_0508IMG_0513

Taman Pintar ini terletak di Jl.P.Senopati 1-3 Yogyakarta, Berkunjung ketaman ini sebetulnya diluar rencana Open-mouthed smile. sebab seperti namanya sebetulnya kawasan ini lebih cocok untuk tempat berlibur keluarga dan rombongan pelajar, jadi kalau kesana tanpa membawa anak-anak rasanya gimana gt Hot smile. berhubung pintu belakang Museum Benteng terhubung dengan pintu samping taman ini maka dengan seganp hati kami nekat ketempat ini.

Melewati gerbang utama anda kan menjumpai sebuah kawasan bermain yang cukup luas. bagi anak-anak ini mungkin sangat luas … disini kita akan menemukan berbagai hal mulai dari kodidor ber air mancur,gong perdamaian nusantara, parabola berbisik, dinding berdendang,cakram spektrum warna, pipa bercerita, air menari, forum batu, tapak pintar, desaku permai, sistem katrol, rumah pohon, jembatan goyang, jungkit-jungkit serta istana pasir. berdekatan dengan koridor air, sebuah benda seperti tugu selalu berbunyi memutar rekaman suara-sura orang penting di indonesia, sayup-sayup saya mendengarkan suara soekarno.

Kawasan taman pintat ini terbagi menjadi beberapa bagian yang setiap bagian dikhususkan untuk jenjang umur tertentu, seperti Zona PAUD (2-7 tahun) jangan tanya isinya apa karna kami jelas tidak boleh masuk kesana, namun menurut informasi yang terpampang Zona Paud berisi : Ruang tunggu, Ruang Sains dan Teknologi, Perpustakaan, Ruang Profesi, Ruang Busaya dna religi, Ruang Komputer Kids, Ruang Puzzle balok, Ruang Pertunjukan dan Karaoke serta ruang petualangan.

nah sesuai dengan umur, maka kami hanyar mengambil satu paket yang terdiri dari 3 ruangan yakni Gedung Oval, Kotak dan Memorabilia tarifnya Rp.15.000/orang.

pertama-tama kami diarahkan untuk memasuki gedung oval terlebih dahulu, sesuai namanya gedung berbentuk oval terdiri dari 2 lantai, uniknya gedung i seolah-oleh sekaligus sebagai miniatur galaxy kita dimanadiatas kita akan melihat beberapa planet yang senggaja digantung sesuai dengan urutannya masing-masing. dilantai dasar, mengitari ruangan anda akan menemukan peragaan-peragaan alat iptek sederhana salah satu yang menarik adalah rel udara. dilantai dua anda akan menemukan alat peraga tentang alam semesta, bumi kita, simulator gempa, simulator dan detektor tsunami, peraga listrik,teknologi konstruksi, zona komunikasi yang dipersembahkan oleh salah satu operator seluler.

keluar dari gedung ini anda selanjutnya diarahkan memasuki gedung kotak, disini isinya luarbias banyak ada zona presiden dimana terdapat informasi lengkap tentang semua presiden RI dan beberapa benda/replika benda peninggalannya, disini anda juga dapat menemukan ruang pembelajaran tentang jenis-jenis Pembangkit listrik, zona nuklir, ada juga zona otomotif, komputer dan masih banyak yang lainnya.

singkat kata Taman Pintar Yogyakarta sangat cocok sebagai tempat berwisata otak bagi anak-anak usia sekolah, remaja maupun orang tua yang berniat menambah wawasan Hot smile.

Terinspirasi dari obrolan ringan di jejaring sosial, terbesitlah judul di atas. saya yakin agak sedikit menggiring pembaca kearah sebuah kesimpulan ! terserah anda mau menyimpulkan seperti apa.
Topik ini memang lagi sedikit anget, dimulai sejak ramai dibicarakannya cerita "bang ... kuli pasir" yg terdapat di sebuah buku LKS anak sd pada mata pelajaran muatab lokal budaya jakarta, sontak pasca ramai dibicarakan dimedia, beberapa "ahli" angkat bicara, termasuk pihak sekolah, namun seiring waktu, akhirnya LKS ini ditarik juga, tapi sudah terlanjur terngiang di kepala anak.
pasca kejadian ini, ramai pula dibahasnya buku-buku lain yg dikatakan "cabul", sungguh ini berita yang tidak mengenakkan tentang dunia pendidikan. ramai pula beberapa oknum menyalahkan ini sebagai sebuah kelalaian yang dilakukan orang-orang yang berkepentingan di dunia pedidikan, tak pelak nama gurupun tercatut juga :-) baik yang terlibat secara langsung maupun tidak, orang tua maupun wali siswa juga pasti khawatir kalau saja anaknya tertular “cabul” karena membaca buku paket “cabul” di sekolah.
pendek kata semuanya khawatir, semuanya termasuk RI1 saya rasa Hot smile
Tapi sudahlah yang cabul, biarlah berlalu, toh sudah ditarik dari pasaran, toh guru yang bertanggung jawab dikelas tersebut sudah menyampaikan materi pelajaran dengan hati-hati, sehingga mental anak tidak ikut “cabul”, saat ini ada yang lebih berbahaya dibanding buku cabul ? apa itu ? tolong baca lagi judul diatas Open-mouthed smile

sebelum ketopik “sinetron”, mari kita mengingat kembali cara kerja otak manusia !
saya yakin sebagaian besar masih ingat, atau paling tidak merasakan !
Dulu sewaktu masih kecil, teman saya pernah berucap, mengapa ya kita lebih mudah mengingat tayanga di TV dari pada cerita yang ada dibuku pelajaran ?
saat itu belum ada seorangpun dari kami (saya, teman saya yang bertanya, dan beberapa teman lainnya) yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, dengan baik. apalagi ilmiah Smile with tongue out
tapi detik ini kita sepakat, karena memang ada dasar ilmiahnya (penelitian) yang mengungkapkan bahwa, Otak kita labih mudah menangkap informasi berupa data lengkap (audio dan visual).
ada sebuah ungkapan yang secara lengkap menggambarkan bagaimana otak kita bekerja dan menyimpan informasi, ungkapan itu berbunyi "Saya mendengar dan saya lupa. Saya melihat dan saya ingat. Saya lakukan dan saya mengerti. "
sekarang mari kita pikirkan, lebih mudah mengingat yang mana, tayangan sinetron atau bacaan dibuku paket ?
untuk topik yang sama saya yakin, konten pada tayangan sinetron labih mudah diingat ! bukan begitu Ninja
Permasalahannya bukan pada sinetron atau film, produksi dalam atau luar negeri, skala nasional atau lokal, tetapi isi (konten) yang disampaikan pada tayangan tersebut, suka tidak suka, kita sama-sama mengamati dan mengamini “sinetron” dalam negeri akhir-akhir ini yang tayang ditelevisi lebih banyak menampilkan adegan-adegan yang tidak mendidik, seperti kekerasan, penggambaran sosok guru yang tidak sesuai dengan kaidah, memberi contoh cara berpenampilan yang jauh dari budaya indonesia, menampilkan pergaulana yang kurang pantas, menggunakan kata-kata kasar, ejekan, olokan dan masih banyak lagi, hampir tidak terhitung jumlahnya.
kita sadar bila konten-konten seperti ini terus menerus disogukan pada anak, maka suka tidak suka anak-anak akan tertular negatifnya. seperti yang biasanya terjadi dilingkungan kita, konten negatif lebih mudah diserap dibanding konten positif. celakanya (jadi ingat lagu sheila on seven Hot smile) tanyangan senetron tersebut kebayakan tayang pada jam-jam istirahat keluarga antara jam 18.00-21.00.
pada kasus sinetron ini, saya sadar, penonton adalah raja, dia yang pegang remote televisi/dekoder, dia bebas memilih konten apa yang ia tonton, seperti biasanya setipa tayangan sudah diberi kode usia, terserah pada yang menonton apakah akan menaati atau memilih untuk tetap menonton meskipun tidak cocok dengan usianya. dari sisi orang, merekapun punya hal sekaligus kewajiban untuk mengatur apa yang boleh ditonton dan apa yang tidak boleh ditonton oleh anak-anaknya ! sehingga pendek kata dampak negatif dari senetron bisa dihindari bila penontonnya selektif dalam memilih tayangan. tapi yang terjadi sebaliknya ? penontonnya yang tidak bisa memilih tayangan dengan tepat ? saya berani berkata seperti ini karena buktinya tanyangan yang kurang mendidik tersebut sampai saat ini masih booming di TV, ini menandakan adanya peminat dari penonton yang cukup tinggi, sebab televisi hanya akan menayangakan tontonan yang punya rating bagus Devil jadi tanya mengapa ????
ini benar-benar seperti “lingkaran setan”, tidak ada ujung dan pangkalnya.
sebenarnya saya sekit kecewa dengan media massa yang ramai memberitakan tentang buku paket “cabul”, tapi kenapa mereka tidak pernah ramai meberitakan tayangan sinetron yang tidak mendidik, maaf mungkin pernah, akan tetapi tidak seheboh memberiktakan buku paket “cabul”. padahal jika dihitung-hitung dari dampak, sinetron justru punya andil yang luas. saya beberapa kali mendengarkan anak-anak lebih ingat konten sinetron dibanding konten pelajaran. sungguh miris…
jika dikatakan ini salah orangtua yang tidak mengawasi, berarti dalam topik buku paket “cabul” gurulah yang harus dipersalahkan, padahal pada kasus tersebut, pembuat LKS/BUKU juga mandapat teguran lalu kenapa pembuat sinetronnya tidak ?? tanya mengapa ?